Kekuatan ‘Social Trends’ sebagai Ujung Tombak Pariwisata






Kekuatan ‘Social Trends’ sebagai Ujung Tombak Pariwisata


Suatu bidang yang tengah digandrungi dalam masyarakat (Social Trends) baik itu dalam ruang hoby, profesi atau bahkan prestise terkadang hanya sekedar menjadi penggembira situasional dalam perjalanan berkehidupan di masyarakat. Sudah banyak contoh yang dapat kita ambil, trend bersepeda, trend berkendara, trend berkumpul/komunitas, trend hoby, dll. Memanfaatkan ‘social trends’ untuk mengorbitkan suatu daerah ? mengapa tidak ? justru hal demikian dapat memberi nilai lebih dan fitback nya lebih terasa ke daerah itu sendiri. dan lagi ini adalah solusi jitu dalam berpromosi secara murah namun multi manfaat. Saya ingat sekali di seputaran tahun 1998 s/d 2003, trend yang di gandrungi oleh remaja/anak muda pada era tersebut adalah Mendaki Gunung. Saya pun ikut tenggelam dan terjun langsung dalam uforia hoby tersebut. Puluhan komunitas pecinta alam (yang dalam prakteknya lebih kepada perkumpulan para pendaki gunung) terbentuk sporadis, wajib bagi setiap sekolah terutama sekolah menengah atas untuk ‘menyediakan’ fasilitas ekstrakulikuler bagi para penikmat alam liar ini. Sekolah yang tidak mempunyai kegiatan ekstrakulikuler Pecinta Alam dinilai tidak berkelas dan ditinggalkan peminat. Bahkan beberapa peraturan sekolah juga terpaksa mengikuti trend yang tengah terjadi, ambil contoh penggunaan ikat pinggang/gesper yang sebelumnya harus berwarna hitam mesti memberi toleransi pada gesper berwarna hijau (khas para pendaki gunung). Itulah kekuatan trend ! Berbagai lomba-lomba yang berkaitan dengan dunia pecinta alam digelar dari tingkat antar sekolah, kabupaten, propinsi bahkan regional. Tidak hanya Rejang Lebong yang dilanda uforia tersebut, nyaris seluruh nusantara dilanda ‘gila daki gunung’. Mengapa wabah hobby tersebut menjadi trend setter di seluruh negeri ? tentu saja tidak lepas dari prestasi membanggakan dari putra-putri Indonesia yang suskes menaklukkan puncak tertinggi di muka bumi (mount everest) pada 26 April 1997. 3 orang pendaki dari team ekspedisi gabungan Kopassus dan sipil berhasil mengibarkan bendera merah putih di atap dunia. Sebuah prestasi dan pencapaian yang luar biasa dan tercatat sebagai negara asia tenggara pertama yang mengibarkan bendera di gunung tertinggi di dunia. Untuk tingkat provinsi Bengkulu dan regional Sumatera bagian Selatan (sumbagsel), Rejang Lebong menjadi pusat segala kegiatan mountenering. Keberadaan Bukit Kaba sebagai satu-satunya gunung api aktif di wilayah regional mengundang ribuan pendaki dari ratusan komunitas untuk menapakai gunung hutan khas tropis basah serta puncak berkaldera belerang dan berkemah disana setiap tahunnya. Sebuah kenangan dan kebanggaan tersendiri bagi eksponen 98 s/d 03 dimana banyak pendaki gunung dari luar daerah yang datang dan kembali datang ke gunung ini. Keberadan Gunung Kaba disejajarkan dengan gunung-gunung lain di Sumatra yang jauh lebih tinggi dan lebih menantang medannya. Faktor keindahan alam yang tidak ditemui di gunung lain adalah salah satu nilai pembeda dan pembanding. Saat ini, sisa dari kejayaan Rejang lebong dengan Bukit Kaba-nya sebagai sentra kegiatan mountenering telah pudar, selain digerus oleh perubahan zaman dan pergeseran trend, minimnya perhatian dan kejelian pemerintah daerah saat itu dalam menyikapi dan memanfaatkan trend tersebut demi kepentingan daerah juga dapat dikatakan sebagai penghenti langkah. Tidak mudah mengembalikan dan mencipta ulang kejayaan tersebut, walau dibalut dengan perencanaan dan program yang terukur, suasana 98 s/d 03 tidak dapat diciptakan kembali karena trend tersebut mempunyai kapasitas bosan dalam hitungan alogaritmanya sendiri. Dengan ketersediaan sumber daya alam yang ada, dan bila dikelola dengan baik bukan tidak mungkin hal yang terjadi pada era tersebut dapat kembali terulang ? sepertinya tidak bisa lagi, pada tahun 2011 team ekspedisi Seven Summit Indonesia kembali mengibarkan merah putih di puncak Everest tepat pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, trends serupa tahun 1998 tidak terjadi lagi, terakhir kita mencatat untuk ketiga kalinya bendera Indonesia berkibar di puncak Everest pada Mei 2012 lalu, kembali kita menemukan kenyataan bahwa trend 98-03 tidak dapat terulang lagi dan menjadi salah satu bagian dari masa lalu. Uraian di atas adalah contoh ‘social trends’ yang dapat di manfaatkan sebagai akselerator promosi wisata daerah. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah Daerah yang saat ini sedang mencari cara jitu mempromosikan daerah. Paling tidak membuka wacana bahwa trend yang terjadi di masyarakat pun bila di tilik dari sudut pandang tertentu dapat dijadikan objek pelaksana promosi daerah. Tentu saja dapat dikatakan biaya yang dibutuhkanpun murah meriah dibanding dengan mendatangkan ‘ahli’ yang menawarkan solusi berbiaya tinggi. Ok, kita berhenti sejenak mengingat masa lalu dan kembali ke masa sekarang, adakah trends yang sama atau minimal serupa yang dapat di domplengi oleh pemerintah daerah ? kalau trends mendaki gunung saya rasa tidak. Namun trends lain dapat dimanfaatkan sebagai media akselerasi dan promosi. Untuk mempersingkat uraian, kita ambil contoh 2 trend yang sedang terjadi di masyarakat.Yaitu trends bersepeda dan trends fotografi. Yang pertama trend bersepeda, diawali dengan isu pemanasan global serta isu menipisnya cadangan minyak dunia melahirkan trend baru berbasis sadar lingkungan dan energi dengan beralih menggunakan sepeda sebagai alternatif transportasi. Keberhasilan program B2W (Bike To Work) menjadi basis dari perkembangan dunia persepedaan di Indonesia. Menciptakan trend tersebut tidak instan, sudah sejak tahun 2004 komunitas B2W melakukan kampanye penggunan sepeda sebagai alat transportasi untuk bekerja. Baru pada 2010 trend ini menggurita dari awalnya hanya sebagai kampanye alternatif transportasi kantor menjadi trend umum di masyarakat, hadirnya jenis sepeda yang sadar zaman dan menyentuh kalangan muda (sepeda fixie) berhasil menjadikan sepeda sebagai salah satu item ‘musti’ dalam pergaulan dan peningkat prestise. Memanfaatkan trends sepeda sebagai media promosi pariwisata dan pengenalan daerah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai event yang berhubungan dengan sepeda. Seperti memanfaatkan fasilitas jalan raya yang super mulus yang sudah menghubungkan daerah-daerah di kabupaten rejang Lebong sebagai lintasan/track (cross country). Memanfaatkan bukit kaba sebagai arean/track event sepeda gunung (montain bike), menggelar event kumpul bareng ‘penggila’ sepeda tingkat regional ataupun tingkat nasional, atau tour sepeda melewati titik-titik destinasi wisata di Rejang Lebong dll. Yang Kedua adalah Fotografi, sudah bukan hal asing lagi bagi kita melihat aktifitas potret-memotret di berbagai tempat saat ini. Dan harus diakui juga, trends fotografi juga tengah mewabah di kalangan anak muda. tercatat telah ada komunitas khusus yang menaungi para fotografer-fotografer lokal. Kegiatan mereka terlihat masih sangat monoton dan lebih menjurus ke ruang profesi dengan menawarkan jasa ‘tukang’ foto berbagai pose untuk para pelanggan (talent). Dan hasil dari jepretan para fotografer lokal tersebut dinilai cukup berkwalitas, kreatif dan variatif. Tidak ada salahnya apabila kemapuan mereka juga dapat bermanfaat bagi daerah dengan melibatkan mereka dalam kegiatan dokumentasi dll. Salah satu contoh kegiatan adalah melibatkan dunia fotografi dalam akselerasi promosi wisata, misalkan dengan mengadakan lomba foto destinasi wisata Rejang lebong dengan demikian foto-foto destinasi wisata rejang Lebong akan lebih variatif, selain mempermudah dokumentasi, juga dapat menghemat waktu dan biaya. Kreatifitas mereka pun dapat terasah dengan kegiatan bersifat kompetisi. Bisa dibayangkan ratusan bahkan ribuan foto destinasi wisata yang dapat dikumpulkan dengan kwalitas foto jauh lebih bagus daripada yang sudah ada sekarang. Pembinaanpun dapat dilakukan dengan maksimal. Perlu di catat ! pemanfaatan trend yang sedang terjadi sesungguhnya memakan biaya jauh lebih murah daripada menggelar event-event yang bidangnya tidak dalam posisi diminati. Karena kesadaran dan keinginan untuk berpartisipasi lebih dari panggilan hati karena menyangkut hobby dan sejujurnya para penikmat hoby tersebut memang membutuhkan media ‘pelampiasan’. Dan pemerintah daerah dapat mengambil peran sebagai fasilitator karena trend akan datang dan pergi dengan sendirinya. Tinggal bagaimana kejelian kita memanfaatkan social trends dan melibatkannya dalam pembangunan daerah sehingga setiap pihak yang terlibat dapat merasakan manfaatnya secara timbal balik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendamping Desa Mengawal Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, Mengawal Apa? Mengawal Dananya?

Menuju Koperasi Digital Berlisensi, Koperasi Desa Merah Putih Rojopolo Siap Tembus Pasar Global

Desa Rojopolo Siap Bertransformasi Menjadi Desa Digital