Ujung Tombak Pemberdayaan Rakyat Hadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)
by:
E A N Pelupessy SH
*Solidaritas Masyarakat Transparansi Lumajang*
Studi psikologi perubahan paradigma-prilaku (character building) dan mengoptimalisasi potensi diri (capacity building) menemukan derajatnya dalam pengembangan ilmu humanioara dan berkembang menjadi manajemen pengelolaan sumber daya manusia. Keberhasilan pengembangan ilmu ini karena semakin modern dan kompleksnya keadaan dunia. Awalnya, kita mengenal apa yang disebut dengan Intelegensia Question (IQ) sebagai parameter untuk mengembangkan diri menuju kepada keberhasilan, namun dalam perjalanannya ternyata IQ tidak cukup untuk menggambarkan tentang keberhasilan manusia. Banyaknya faktor lain yang dominan, memunculkan berbagai macam teori dan analisis yang menjelaskan tentang macam-macam kecerdasaan yang dimiliki oleh manusia (contohnya lihat Howard Gardner : Multiple Inteligence, 1993).
Pemberdayaan
Term “empowerment” (memberdayakan) pada pertengahan tahun 90-an dianggap sebagai euphoriasesaat bagi keberhasilan dari optimalisasi dan kesuksesan sebuah lembaga, organisasi, perusahaan dan institusi pemerintah. Lagi-lagi karena pesatnya pertumbuhan modernitas yang memicu kompleksitas persoalan, membawa kesadaran pada manusia sebagai individu untuk terlibat langsung (terutama kemudahan mengakses informasi) dan diberikan kepercayaan lebih serta tanggungjawab.
Terminologi pimpinan adalah segala-galanya (baca:sentralisasi) dari ‘yang dipimpin’ hanya sebagai objek dari seorang pemimpin, mendapatkan penolakan dalam kesadaran kolektif ‘yang dipimpin’. Contoh mudahnya jika kita melihat perusahaan, kesadaran yang muncul dari para pemimpin (manajer, COO dan CEO) akan fenomena penolakan ini (seperti menurunnya produktifitas dan kinerja karyawan), maka banyak perusahaan yang sukses bukan karena pengaruh kuat pimpinannya dan bukan sekedar manajemen organisasi yang ketat, tetapi justru karena merubah gaya dan budaya karyawannya dengan memberikan kesempatan pada karyawannya untuk mengembangkan secara optimal potensi yang dimiliki masing-masing karyawan.
Dalam konteks bernegara, ternyata sentralisasi dalam segala sektor (hierarkhis) pun bukan saja mendapat penolakan bahkan perlawanan. Kesadaran kolektif rakyat akan fenomena ini, digambarkan dari keadaan dan prilaku rakyatnya. Sebenarnya sangat mudah untuk menilai tingkat kemajuan dan kemakmuran suatu negara, yakni cukup melihat keadaan dan prilaku rakyatnya, dan begitu pula jika hendak melihat masa depan negara tersebut, parameternya sama.
Untuk itulah, banyak negara mulai menerapkan pemberdayaan rakyatnya sampai jenjang terbawah dalam struktur kenegaraan. Dari mempekerjakan para konsultan guna mendukung perubahan transformasi di kantor-kantor pemerintahan dan khususnya badan-badan usaha milik negara, sampai memberdayakan rakyat langsung, dengan memberikan kemudahan akses informasi, pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan dari Pusat ke Daerah, bahkan memberikan otoritas dan kewenangan secara mandiri kepada rakyat untuk dapat bertanggungjawab terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Yang perlu dicatat bukan berarti kemudian negara melepaskan tanggungjawabnya, tapi mengajak secara bersama seluruh elemen kenegaraan menuju kepada negara yang lebih baik. Masyarakat diajak berpartisipasi aktif dan bertransformasi sendiri dalam memberdayakan hidupnya, karena sesungguhnya sukses suatu bangsa dan negara merupakan akumulasi dari sukses tiap individunya.
Lembaga Masyarakat
Ujung tombak dari perubahan kultural dengan memberdayakan dan peningkatan potensi rakyat dari suatu negara, pada konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah dengan memberikan wewenang dan otoritas serta tanggungjawab ini kepada lembaga-lembaga kemasyarakatan, utamanya pengurus RT dan RW yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, karena rumitnya jalur birokrasi lembaga pemerintahan.
Bayangkan, beban moral dan tanggungjawab sebagai pengurus RT dan RW, sebagai kepanjangan tangan langsung pemerintah menjadi bertambah, ketika negara meminta kepada lembaga masyarakat ini memainkan fungsi dan perannya sebagai wadah pengembangan dan pemberdayaan masyarakatnya. Dengan imbalan keluhuran yang didapat dari pengabdian, sudah sepatutnya, apresiasi lebih dinisbahkan kepada para pengurus RT dan RW ini. Tidak jarang persoalan-persoalan kompleks dan rumit yang terjadi di masyarakat menyita waktu 24 jam mereka.
Namun, adiluhungnya tradisi kemasyarakatan kita, semangat gotong royong dan kesadaran saling membantu, menunjukkan values (baca:nilai hidup bermartabat) baik sebagai warga negara maupun individu. Kesadaran kolektif masyarakat inilah asset utama sebagai modal menuju Indonesia yang lebih baik dan maju. Atas dasar ini tanpa bermaksud menggurui, ada beberapa kunci yang dapat disarankan bagai para pengurus RT dan RW dalam menjalankan tugasnya sebagai agen perubahan kultural sebagai wadah pengembang dan pemberdayaan masyarakat, walaupun tentunya sangat tergantung dari lingkungan masing-masing, yaitu:
Kunci Pertama, Forum Berbagi, mengembangkan kebiasaan saling berbagi informasi baik kepada sesama pengurus RT dan RW, maupun kepada masyarakat. Hal yang paling berat adalah ketika forum berbagi ini tidak biasa dilaksanakan, dan meyakinkan secara perlahan kepada masyarakat AUB, apa itu AUB? Apa-Untungnya-Bagiku. Banyak hal sederhana dan berguna ketika masyarakat akhirnya akan merasakan keuntungan dari silaturahim ini, contohnya adalah ketika ketua RT dan atau ketua RW menceritakan sebuah informasi berharga yang berkaitan dengan persoalan yang telah, sedang dan akan dihadapi serta perubahan-perubahan aturan dsb. sampai transparansi anggaran uang kas RT dan RW. Terlebih penting lagi adalah mengidentifikasi kebutuhan lingkungan.
Kunci Kedua, Pemetaan Potensi, memetakan potensi yang dimiliki lingkungan, baik wilayah seperti letak geografisnya maupun potensi masyarakatnya. Biasanya, informasi tentang potensi akan didapatkan pada forum berbagi yang rutin diadakan, lalu diberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi agar dapat dirasakan bersama. Contohnya, jika dapat membuat peta potensi, berapa dokter yang tinggal di lingkungan, kita dapat mengajaknya untuk membuat program pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, atau ada seorang warga yang mempunyai keahlian berkesenian atau berolahraga dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kemampuan anak-anak muda.
Kunci Ketiga, Hierakhi menjadi Egaliter dengan membentuk Tim Mandiri, memberikan kepercayaan dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing dari kebutuhan yang sudah teridentifikasi. Contohnya, selama setahun dibuat program-program yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan dan mempercayakannya kepada Tim Mandiri yang dibentuk berdasarkan kesepakatan dan persetujuan pengurus RT dan RW diluar dari tugasnya sebagai pengurus dan melibatkan penuh warga diluar kepengurusan. Di beberapa daerah banyak program seperti Koperasi/BMT warga, Bank Sampah, Bank Gas untuk memasak, Panel Surya dsb.
Sekali lagi ketiga kunci saran ini berdasarkan idealisme, dalam pelaksanaannya tentu akan berat dan mengalami banyak hambatan. Untuk itulah diperlukan kesabaran di dalam membangun komunitas apalagi dalam memberdayakan warga. Sebagai catatan tambahan, dalam melaksanakan ketiga kunci yang disarankan ini, sifatnya harus interaktif dan dinamis mengikuti situasi, kondisi dan tradisi serta kebiasaan setempat. Paling tidak muncul sebuah kesadaran kolektif komunal akan tantangan nyata jika sesama warga tidak ikut berperan serta dalam memberdayakan lingkungannya.
Dan tantangan nyata tidak sampai setahun lagi adalah telah diberlakukannya Komunitas Masyarakat Ekonomi Asean, dengan konsekuensi logisnya, jika kita sebagai warga tidak siap menghadapi serbuan arus deras dari negara-negara tetangga, maka selamanya kita akan menjadi tuan rumah di rumah sendiri, bahkan lebih ironis dari itu, untuk sekadar bertahan hidup di rumah sendiri pun akan mengalami kebuntuan. Jika tidak bisa siap secara mandiri, tentu akan mudah menyiapkan diri secara gotong royong dalam menghadapinya.

Komentar
Posting Komentar