꧋ꦩꦏ꧀ꦱꦶꦩꦭꦶꦱꦱꦶꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦝꦂꦠ꧀ꦥꦼꦔꦩꦤꦤ꧀ꦕ꧀ꦪ꧀ꦧꦼꦂꦕ꧀ꦫ꧀ꦪ꧀ꦥ꧀ꦠꦺꦴꦒ꧀ꦫ꧀ꦐ꧀ꦥ꧀ꦲ꧀ꦪ꧀ꦝꦼꦔꦤ꧀ꦠꦼꦏ꦳꧀ꦤꦶꦏ꧀ꦲꦱ꧀ꦲ꧀ꦠꦺꦏ꧀ꦱ꧀ꦠ꧀ꦥꦣꦄꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮꦩꦼꦁꦒꦸꦤꦏꦤ꧀ꦩꦺꦏꦤꦶꦱ꧀ꦩꦼꦄꦭ꧀ꦒꦺꦴꦫꦶꦠ꧀ꦩꦩ꧀ꦝ꧀꧇꧕꧇ꦱꦼꦧꦒꦻꦈꦥꦪꦕꦼꦒꦃꦠꦁꦏꦭ꧀ꦏꦼꦗꦲꦠꦤ꧀ꦕ꧀ꦪ꧀ꦧꦼꦂ Ery Pelupessy: Maksimalisasi Standart Pengamanan Cyber Cryptogrqphy Dengan Tekhnik Hashtext Pada Aksara Jawa Menggunakan Mekanisme Algoritma MD5 Sebagai Upaya Cegah Tangkal Kejahatan Cyber
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dalam dunia cyber security, keamanan data menjadi hal terpenting untuk dijaga kerahasiaannya. Apabila sebuah data atau informasi bocor tanpa adanya control yang jelas, maka dapat dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab dengan tujuan tidakjelas dan membahayakan.
Asisten Polhukkam Dewan Majelis Nasional Formasy Praja Nusantara Indonesia E A N Pelupessy, MH. L.iC mengungkapkan bahwa Cryptography atau kriptografi merupakan salah satu tools yang banyak digunakan di dunia cyber security untuk mengamankan data.
Apa itu Kriptografi?
Kriptografi merupakan bagian dari kriptologi, kriptologi sendiri adalah studi mengenai kriptografi dan kriptanalisis.
Kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan pesan dengan cara menyandikannya ke dalam bentuk yang tidak dapat dimengerti lagi maknanya. Sedangkan Sedangkan kriptoanalisis adalah usaha mendapatkan teks terang dari suatu teks sandi yang tidak diketahui sistem serta kunci-kuncinya.
Sejarah Kriptografi
Kriptografi awalnya digunakan di Yunani sejak 400 SM. Biasanya digunakan oleh kalangan militer (termasuk intelijen dan mata-mata), korps diplomatik, penulis diary, sampai kalangan yang sedang jatuh cinta yang menggunakan sandi-sandi tertentu untuk berkomunikasi dengan kekasih.
Saat ini kriptografi dapat digunakan dan dipelajari oleh kalangan apapun, selain itu juga kriptografi telah berkembang sehingga ia tidak lagi sebatas mengenkripsi pesan, tetapi juga memberi aspek keamanan
Tujuan kriptografi
Tujuan dari kriptografi antara lain :
- Confidentiality
Yaitu upaya pencegahan bagi mereka yang tidak berkepentingan untuk dapat mencapai informasi.Contohnya adalah e-mail maupun data-data perdagangan dari perusahaan
- Integrity
Yaitu bentuk pencegahan terhadap kemungkinan amandemen atau penghapusan informasi oleh mereka yang tidak berhak. Contohnya sebuah pengumuman ujian di kampus, meski tidak rahasia ini perlu dijaga integritasnya, jangan sampai ada hacker yang bisa menyadap dan mengubah isi dari pengumuman atau data tersebut.
- Authentikasi
Yaitu suatu langkah untuk menentukan atau mengonfirmasi bahwa seseorang (atau sesuatu) adalah autentik atau asli. Contohnya menjamin suatu akses pada suatu resources seperti menggunakan mekanisme login.
- Non-repudation
Aspek ini menjaga agar seseorang tidak dapat menyangkal telah melakukan sebuah transaksi.
Contohnya, sesorang yang mengirimkan email untuk memesan barang tidak dapat menyangkal bahwa dia tekah mengirim email tersebut.
Komponen Kriptografi
Kriptografi terdiri dari 4 komponen utama, yaitu :
- Plainteks, yaitu pesan yang dapat dibaca
- Cipherteks, yaitu pesan sandi yang tidak dapat dibaca
- Algoritma, yaitu metode untuk melakukan enkripsi dan dekripsi. Algoritma kriptografi sendiri tidak bersifat rahasia.
- Key atau kunci, yaitu kunci untuk melakukan teknik kriptografi atau parameter untuk transformasi enchipering dan dechipering. Kunci tersebut bersifat rahasia.
Aplikasi Kriptografi
Pengaplikasian enkripsi dan dekripsi antara lain :
- Pengiriman data melalui siaran komunikasi (data encryption on motion)
Contohnya sinyal yang ditransmisikan dalam percakapan dengan handphone, nomor pin kartu atm yang di transmisikan dari mesin atm ke komputer bank.
- Pengiriman data di dalam disk storage (data encryption at rest)
Contoh : Dokumen teks yang berasal dari plainteks diubah menjadi chiperteks, Dokumen gambar diubah dari gambar menjadi chiperteks.
Teknik kriptografi
Terdapat 2 teknik dasar pada kriptografi :
- Teknik Substitusi
Yaitu penggantian karakter teks asli (plainteks) dengan dengan teks sandi (chiper) berupa huruf-huruf lain, angka atau dengan symbol.
Contoh menggunakan cara Caesar Chiper :
Plainteks : a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z
Chiperteks : Q A W S E D R F T G Y H U J I K O L P M N B V C X Z
- Teknik Transposisi
Yaitu permutasi karakter dimana pesan asli (plainteks) ditulis perhuruf dalam 2 baris kemudian dibaca perbaris untuk dijadikan chiperteks, biasanya ditulis kedalam bentuk matriks.
Plainteks : NEW GENERATION
Chiperteks : NWGNRTOE+EEAIN
| N | W | G | N | R | T | O |
| E | + | E | E | A | I | N |
Klasifikasi Hastext Aksara Jawa Kelompok Aksara yang berpotensi diterapkan dalam Pertahanan Cyber
Aset kebudayaan asli Indonesia yang diakui dunia, yaitu aksara Jawa yang mendapat pengakuan resmi dari Unicode, lembaga di bawah naungan UNESCO. Pengakuan ini diberikan pada 2 Oktober 2009, bersamaan dengan penetapan batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
Dengan pengakuan itu, kini aksara Jawa bisa dipakai untuk komputer yang setara dengan huruf lain di dunia yang telah digunakan dalam komputer, seperti Latin, Cina, Arab, dan Jepang.
Pengakuan tersebut diberikan setelah Ki Demang Sokowaten dari Yogyakarta pada 9 September 2007 silam mendaftarkannya ke Unicode.
Banyak keuntungan bagi Indonesia apabila aksara Jawa diakui UNESCO sebagai simbol salah satu bahasa ibu di dunia, diantaranya: terlindungi dari ancaman kepunahan, melindungi dan melestarikan sendi-sendi kebudayaan aksara Jawa, serta tidak bisa dicuri atau diklaim pihak manapun.
Aksara Jawa Hanacaraka atau yang dikenal dengan nama Carakan termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi, yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak.
Aksara Brahmi sendiri merupakan turunan dari aksara Assyiria.Aksara Jawa modern adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida.
Hal ini bisa dilihat dari struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”.
Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara latin.
Klasifikasi Aksara Jawa Kelompok Aksara
Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun demikian, pengajaran modern sekarang menuliskannya di atas garis.Aksara Jawa Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf “utama” (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).
1. Huruf Dasar (Aksara Nglegena)
Pada aksara Jawa Hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu “cerita pendek”:ha na ca ra kada ta sa wa lapa dha ([dha]) ja ya nya ([ɲa])ma ga ba tha ([ʈa]) nga ([ŋa])Berikut ini adalah aksara nglegena:
2. Huruf Pasangan (Aksara Pasangan)
Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai contoh, untuk menuliskan mangan sega akan diperlukan pasangan untuk “se” agar “n” pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan “s” tulisan akan terbaca manganasega.Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.Berikut ini adalah daftar pasangan:
3. Huruf Utama (Aksara Murda)
4. Huruf Vokal Mandiri (Aksara Swara)
5. Huruf Tambahan (Aksara rèkan)
6. Huruf Vokal Tidak Mandiri (Sandhangan)
7. Tanda Baca (Pratandha)Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa.
Berdasarkan bentuk aksara dibagi menjadi 3, yakni:
1. Ngetumbar
2. Mbata Sarimbag
3. Mucuk Erib.
Berdasarkan daerah asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa:
1. Yogjakarta
2. Surakarta
Aturan Baku Penggunaan Aksara Jawa HanacarakaPenggunaan (pengejaan) Hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan aksara ini.
Pertemuan pertama menghasilkan Wewaton Sriwedari (Ketetapan Sriwedari), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena loka karya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/.
Alih-alih penulisan ejaan baru menjadi bentuk Ronggawarsita -bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19- dengan mengurangi penggunaan taling tarung.Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan Hanacaraka.
Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.
Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III Juli 2001 di Yogyakarta. Kongres ini menghasilkan perubahan beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).
Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara-Aksara NusantaraPenulisan Aksara Jawa dalam Cacarakan SundaAda sedikit perbedaan dalam Cacarakan Sunda dimana aksara “Nya” dituliskan dengan menggunakan aksara “Na” yang mendapat pasangan “Nya”. Sedangkan Aksara “Da” dan “Tha” tidak digunakan dalam Cacarakan Sunda. Juga ada penambahan aksara Vokal Mandiri “É” dan “Eu”, sandhangan “eu” dan “tolong”.Integrasi Aksara Jawa Hanacaraka ke dalam Sistem Informasi Komputer.
Usaha-usaha untuk mengintegrasikan aksara ini ke sistem informasi elektronik telah dilakukan sejak 1983 oleh peneliti dari Universitas Leiden (dipimpin Willem Van Molen). Integrasi ini diperlukan agar setiap anggota aksara Jawa memiliki kode yang khas dan diakui di seluruh dunia.
Jeroen Hellingman mengajukan proposal untuk mendaftarkan aksara ini ke Unicode pada pertengahan tahun 1993 dan Maret Selanjutnya, Jason Glavy membuat “font” aksara Jawa yang diedarkan secara bebas sejak 2002 dan mengajukan proposal pula ke Unicode. Di Indonesia Ermawan Pratomo membuat font Hanacaraka pada tahun 2001,Teguh Budi Sayoga pada tahun 2004 telah membuat font aksara Jawa untuk Windows (disebut “Hanacaraka”) berdasarkan ANSI. Matthew Arciniega membuat screen font untuk Mac pada tahun 1992 dan ia namakan “Surakarta”. Yang terbaru adalah yang digarap oleh Bayu Kusuma Purwanto (2006), yang dapat diekspor ke dalam html.
Baru sejak awal 2005 dilakukan usaha bertahap yang nyata untuk mengintegrasikan aksara Jawa ke dalam Unicode setelah Michael Everson membuat suatu code table sementara untuk didaftarkan. Kelambatan ini terjadi karena kurangnya dukungan dari masyarakat pengguna aksara ini.
Aksara Jawa Hanacaraka saat ini telah dirilis dalam Unicode versi 5.2 (tergabung dalam Amandemen 6) yang keluar pada tanggal 1 Oktober Alokasi Memori Aksara Jawa (Javanese) pada Unicode adalah di alamat A980 sampai dengan A9DF
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar