Destinasi Wisata Geopark Ijen Terbaru 600 Hektar Hutan Kentang Indofood Hanya Ada Di Bondowoso, KPK Bungkam!!
Destinasi Wisata Geopark Ijen Terbaru 600 Hektar Hutan Kentang Indofood Hanya Ada Di Bondowoso, KPK Bungkam!!
4 Februari 2021
Masyarakat Transparansi Indonesia|Bondowoso
Mengungkit luka dan bencana Ijen
Tepatnya Kecamatan Ijen Kabupaten Bondwoso, Jawa Timur. Awal tahun 2020. Tanggal 29 Januari. Bencana banjir bandang menerjang kecamatan yang berbatasan dengan Banyuwangi itu. Dari catatan BPBD setempat, sedikitnya 214 rumah dan sejumlah faslitas umum terendam. Ratusan orang mengungsi. Mereka kehilagan 864 ternak. Pekakas rumah dan harta benda hanyut, terendam lumpur.
Trauma belum hilang. Sekitar 45 hari berikutnya. 14 Maret 2020. Bencana yang lama mengintai itu datang lagi. Lebih besar dari sebelumnya. 314 rumah terendam. Ratusan orang harus mengungsi. Awal tahun yang tidak menguntungkan bagi warga Desa Sempol dan Kalisat. Bencana kedua ini menyisakan tumpukan pasir dan lumpur setebal 50 centimeter hingga 2 meter.
Bencana tetaplah bencana. Nasi sudah menjadi bubur. Gunug di sekitar Ijen sudah menjadi lumpur. Tapi bencana dan segala ancamannya ini, setidaknya tetap menjadi pelajaran dan evaluasi kepada kita. Seorang penulis sain dan tasawuf modern, Agus Mustofa, menuturkan. Bahwa bencana alam (apapun itu, banjir, gempa dan sejenisnya) adalah cara alam menyeimbangkan diri. Artiya, salah satu sisi alam (baca: bumi) dirusak, disakiti, dieksploitasi dan sejenisnya.
Rekonstruksi bencana Ijen. Banjir bandang kemarin. Bukan hanya terjangan air, tapi lumpur. Material banjir juga terdiri dari pasir dan potongan kayu berdiameter besar. Pertanyaannya, pegunungan Ijen sebelah mana yang telah rusak (untuk tidak mengatakan dirusak oleh segelintir orang), sehingga alam tak lagi seimbang?
Ternyata aliran air disertai lumpur itu berasal dari Gunung Suket. Salah satu pegunungan di Ijen. Sudah lama bencana itu mengancam warga Ijen. Persis di atas ‘kepala’ mereka. Jika air dan potongan kayu berasal dari sana. Apa yang terjadi di Suket?. Berdasarkan pengakuan sejumlah warga terampak. Ternyata di atas ada penggundulan hutan, yang dialihfungsikan menjadi lahan pertanian kubis dan kentang.
Tak hanya kata warga. Sejumlah aktivis peduli lingkungan, yang tergabung dalam Forum Reboisasi Bondowoso (FRB), menegaskan hal serupa. Di Gunung Suket ada pengundulan hutan dan alih fungsi lahan. Perlu saya cetak miring?. Di Gunung Suket ada pengundulan hutan dan alih fungsi lahan. Pemerintah setempat juga mengakui itu. Ada 600 hektar lahan di Suket dijadikan lahan pertanian.
Hasil diskusi saya dengan salah satu anggota FRB. Di Gunung Suket, sama sekali tidak ada tegakan. Yang dulunya hutan kini murni lahan pertanian. Pertanian kubis dan kentang. Namun Perhutani KPH Bondowoso, menganggap itu bukan alih fungsi lahan. Tapi pemanfaatan kawasan hutan untuk agroforestry.
Oke. Kita sama-sama pelajari. Apa itu agroforestry? Maydell sebagaimana dikutip Alrasjid mengatakan, agroforestry adalah sebagai suatu sistem pengguanaan lahan, dimana pada lahan yang sama, ditanam secara bersama-sama antara tegakan hutan dan tanaman pertanian.
Meski bukan orang kehutanan. Kita dengan mudah bisa memahami maksud definisi di atas. Perlu saya cetak miring lagi? Oke. Ditanam secara bersama-sama antara tegakan hutan dan tanaman pertanian. Tegakan dan tanaman pertanian harus bersama-sama. Namun kenyataanya, pemanfaatan hutan di Gunung Suket telah mencederai definisi agroforestry. Sebab yang ada hanya tanaman pertanian, dan tegakannya hilang (dimusnahkan secara ilegal). Pantaskah penanaman kubis dan kentang di Gunung Suket disebut agroforestry? Jawab sendiri.
Apapun klaim pemangku kebijakan. Apapun keluhan masyarakat Ijen, sudah tidak berarti lagi. Tak akan mengembalikan hutan seketika. Yang paling dibutuhkan hari ini adalah instrospeksi diri. Menyadari bersama, bahwa kondisi di Gunung Suket adalah pembukaan lahan. Murni sebuah kesengajaan nafsu serakah manusia. Kita tahu, tidak mungkin pohon seluas 600 hektar bersepakat untuk tumbang sendiri secara bersama-sama.
Terus, siapa yang bertanggung jawab atas semua itu? Secara umum kita semua bertaggung jawab atas pengrusakan hutan. Karena kita sendiri juga mendapatkan manfaat keberadaan hutan. Makanya puluhan komunitas yang tergabung dalam FRB dan aparat melakukan penenaman sekitar 6000 bibit pohon di Suket, pasca banjir jilid satu.
Tapi bagaimanpun, ada pihak yang harus bertanggung jawab secara khusus atas penggundulan hutan di Suket. Wakil bupati Bondowoso sudah membuka kran, siapa sebenarnya yang bermin di balik itu?. Dalam sebuah pertemuan yang membahas relokasi warga Ijen. Wabup membocorkan satu hal penting, bahwa aparat telah memanggil pihak Corporate besar, yakni Indofood. Bahkan sudah mengantongi nama-nama pelaku. Entah seperti apa kelanjutan ceritanya? Belum ada kabar lagi. Apakah itu pembiaran atau ketidaksengajaan. Tapi tidak masuk akal, jika penebangan pohon seluas 600 hektar tidak disengaja.
Di tengah bencana wabah Virus Corona ini. Ijen dan bencana yang menimpanya juga tidak boleh dilupakan. Apalagi, tumpukan pasir dan lumpur akibat banjir jilid dua, belum juga dibersihkan dari rumah warga dan fasilitas umum. Hutan gundul telah mengancam kehidupan mereka. Menenggelamkan harta kekayaan. Mereka berhak mendapatkan ketenangan.(ery)
Komentar
Posting Komentar